|
IBADAH DAN PELAYANAN YANG DIPERKENAN TUHAN (29 August 2010) |
|
|
|
|
Friday, 27 August 2010 12:29 |
|
Pada Perjanjian Lama seringkali Tuhan menyatakan bahwa Dia tidak senang dengan cara orang Israel beribadah kepadaNya. Misalnya, melalui Samuel maka Tuhan menegaskan kepada raja Saul: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan” (1 Samuel 15:22).
Demikian pula pada zaman raja Jereboam II maka Tuhan menyatakan melalui nabi Amos: “Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepadaKu korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari padaKu keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir” (Amos 5:21-24).
Jadi, jelas sekali bahwa yang menyenangkan hati Tuhan ialah sikap hati. Hati yang mau mendengarkan suara Tuhan. Hati yang mau taat kepada Tuhan. Hati yang mau menunjukkan keadilan Tuhan dalam hidup sehari-hari.
Apabila kita berkumpul bersama untuk beribadah kepada Tuhan setiap hari Minggu apakah yang berkenan di hati Tuhan? Jumlah yang hadir? Gedung gereja yang memadai? Musik yang kita persembahkan kepada Tuhan dengan alat musik dan PA system yang paling hebat? Pakaian kita yang rapih? Kolekte yang nilainya tinggi?
Tuhan Yesus menerangkan kepada perempuan Samaria bahwa “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:24). Dengan demikian Tuhan Yesus menggarisbawahi bahwa cara pengikutnya menyembah Tuhan harus dengan benar dari hati yang tulus. Sikap ini ialah kebalikan dari pada sikap para pemimpin agama Yahudi yang disalahkan oleh Tuhan Yesus sebagai munafik.
Demikian pula dengan pelayanan kita entah itu sebagai guru sekolah minggu, anggota paduan suara, pengurus salah satu komisi dst. Yang menyenangkan hati Tuhan ialah sikap dan hati kita. Apakah kita melayani untuk kemuliaan Tuhan dan hanya untuk namaNya? Apakah kita melayani karena kita ingin melihat Kristus semakin dibentuk dalam mereka yang kita layani? Apakah kita melayani supaya orang lain akan melihat Kristus?
Kata-kata terkahir dari nyanyian “May the mind of Christ my Saviour” merupakan tantangan untuk kita semua: “And may they forget the channel, seeing only Him.” [END] |
|
DOA DAN IMAN YANG DIPERKENAN TUHAN (23rd August 2010) |
|
|
|
|
Sunday, 22 August 2010 12:46 |
|
Dalam kitab Mazmur terdapat beberapa mazmur yang menyatakan suka cita apabila umat Tuhan berziarah ke Bait Suci yang terletak di atas gunung Sion di kota Yerusalem. Mazmur 42 dan 43 mengungkapkan kerinduan si pemazmur supaya dapat berziarah ke Bait Suci karena terlalu lama terhalang, pada zaman pembuangan ke Babel, dari kesempatan pergi menghadap Tuhan di Yerusalem.
Mazmur 122 merupakan salah satu nyanyian ziarah Daud. Pada ayat 1 dan 2 Daud mengekspresikan suka cita apabila dia sempat ke Bait Suci: “Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: ‘Mari pergi ke rumah TUHAN.’ Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem.”
Waktu Tuhan Yesus mengusir pedagang dan penukar uang dari Bait Suci maka Dia menyatakan: “Ada tertulis: RumahKu adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun” (Lukas 19:46). Yang menjadi masalah ialah bahwa orang bukan Yahudi yang mau datang berdoa kepada Tuhan terhalang oleh pedagang dan penukar uang.
Yang menyenangkan hati Tuhan ialah supaya umatNya sungguh-sungguh beriman kepadaNya. Beriman kepada Tuhan berarti, antara lain, bahwa kita bergantung padaNya secara mutlak. Kita menunjukkan bahwa kita bergantung pada Tuhan secara mutlak dengan berdoa kepadaNya.
Pada Mazmur 122:6 Daud menghimbau semua supaya berdoa untuk ‘syalom’. Istilah ini (????) dapat diterjemahkan sebagai “kesejahteraan” atau “sentosa”. Sehingga ayat 6 diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai: “Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: ‘Biarlah orang-orang yang mencintaiMu mendapat sentosa’”.
Yang menyenangkan hati Tuhan bukanlah melakukan kewajiban beragama (lihat Matius 6:1-18). Yang menyenangkan Tuhan ialah apabila di mana kita berada maka kita menunjukkan kebergantungan total kepadaNya secara spontan.
Apakah rekan kita di kantor atau di sekolah tahu bahwa kita adalah orang yang sungguh-sungguh menunjukkan kebergantungan kita pada Tuhan melalui berdoa kepadaNya? Apakah sebagai orang tua maka anak kita tahu bahwa kita sungguh-sungguh berdoa kepada Tuahn supaya Tuhan akan memberikan syalom kepada keluarga kita?[END] |
|
KEDAULATAN TUHAN DI TENGAH KEHIDUPAN BERBANGSA (15 August 2010) |
|
|
|
|
Friday, 13 August 2010 06:34 |
|
Sebagai orang percaya kita dipanggil hidup di dunia ini sebagai garam dan terang dunia. Kita dipanggil menyatakan firman Tuhan kepada dunia yang diciptakanNya. Kita dipanggil berbangsa. Kita dipanggil menghormati yang memerintah di atas kita. Bahkan Rasul Paulus menegaskan: “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah” (Roma 13:1). Lagi pula Paulus mengajarkan: “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan” (1 Timotius 2:1,2).
Hari Sabtu depan akan dilangsungkan Pemilu federal di Australia sedangkan hari Selasa depan ialah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Sehingga tepat sekali apabila kita mengambil kesempatan untuk merenungkan makna kedaulatan Tuhan di tengah kehidupan berbangsa.
Bagi kita yang lama di Australia maka kita sudah mengalami perubahan yang melintasi pemerintahan-pemerintahan Menzies, Whitlam, Fraser, Hawke-Keating, Howard dan seterusnya sampai dengan hari ini. Sedangkan bagi kita yang sudah mencapai usia indah maka kita masih ingat zaman Belanda di Indonesia, penjajahan Jepang, Orde Lama, Orde Baru dan setersunya sampai dengan masa kini.
Daniel lama sekali setia melayani Tuhan di Babel. Dia sempat mengalami orang Israel digulingkan oleh orang Babel yang kemudian digulingkan oleh orang Persia. Dalam semuanya selama puluhan tahun maka Daniel tetap menyaksikan kedaulatan Tuhan. Memang firman yang disampaikannya kepada raja Nebukadnesar (Daniel 2) menegaskan bahwa semua kerajaan berada dalam tangan Tuhan yang berdaulat secara mutlak.
Amsal 21:1 menyatakan: “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke mana Ia ingini”.
Siapa pun yang akan dipilih di Pemilu Sabtu depan akan ditetapkan sebagai pemerintah oleh Tuhan meskipun mereka percaya kepada Tuhan atau tidak. Marilah kita berdoa supaya Tuhan akan menunjukkan kedaulatanNya supaya umat percaya di Australia tetap ada kebebasan untuk melayani sesama kita dan untuk memberitakan Injil. Marilah kita berdoa supaya Australia tetap didasarkan pada prinsip-prinsip alkitabiah meskipun pemimpin-pemimpinya semakin tidak mengakui firman Tuhan. Marilah kita juga tetap berdoa untuk pemimpin Republik Indonesia supaya mereka memimpin dengan baik dan adil untuk semua penduduknya, supaya ada kerukunan di masyarakat dan supaya umat percaya tetap ada kebebasan mengekspresikan iman Kristen.
Marilah kita berdoa untuk pemimpin yang percaya kepada Tuhan baik di Australia mau pun di Indonesia supaya Tuhan akan banyak memakai mereka untuk kebaikan bangsa Australia dan bangsa Indonesia.[End] |
|
Last Updated on Friday, 13 August 2010 06:37 |
|
PELIHARALAH KESETIAANMU (8 August 2010) |
|
|
|
|
Friday, 06 August 2010 06:43 |
|
Firman Tuhan seringkali menekankan bahwa Tuhan selalu setia pada janji-janjiNya. Tuhan tetap setia pada perjanjianNya dengan umat pilihanNya. Kita dapat mengandalkan kesetiaan Tuhan.
Nabi Yeremia menyatakan: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaanMu!” (Ratapan 3:22,23).
Satu tema sering nampak di seluruh Perjanjian Lama. Yaitu, kesetiaan Tuhan dibandingkan dengan ketidaksetiaan bangsa Israel. Pada setiap saat Israel dinyatakan tidak setia. Israel sering membelakangi Tuhan untuk menyembah patung berhala. Dengan nekad Israel menyembah buatan tangan manusia dari pada menyembah hanya kepada Allah yang hidup.
Menjelang akhir hidupnya maka Rasul Paulus menyinggung bahwa “Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku” (2 Timotius 4:10). Siapakah Demas? Pada Filemon ayat 24 Demas disebut “teman sekerja” dari Paulus. Pada Kolose 4:14 Paulus menulis: “Salam kepadamu dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas”. Jadi, pada permulaannya Demas adalah salah satu rekan sepelayanan Paulus yang dekat dan akrab. Tetapi, akhirnya Demas dinyatakan tidak setia karena meninggalkan Paulus pada waktu dibutuhkan oleh Paulus.
Apakah yang menyebabkan Demas tidak setia? Paulus menyatakan bahwa “Demas telah mencintai dunia”. Daya tarik dunia yang sesat ini sangatlah kuat. Pada zaman Perjanjian Lama bangsa Israel selalu digodai oleh cara hidup bangsa-bangsa disekitar mereka. Sehingga mereka digoda untuk menyembah patung berhala demi mendapat kemakmuran. Demikian pula setiap kita masa kini menghadapi daya tarik dunia modern ini yang membujuk kita supaya mengikuti pikirannya, nilainya dan normanya.
Surat 2 Timotius ditujukan kepada Timotius waktu dia masih muda. Antara lain Rasul Paulus ingin mendorong Timotius supaya tetap setia pada Tuhan seumur hidup. Pada 2 Timotius 4:1-8 Paulus telah menyinggung bahwa “akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (ayat3). Oleh karena itu maka Paulus menghimbau Timotius supaya tetap memelihara Injil yang benar dan tetap setia kepada Tuhan.
Demas dibujuk untuk mencintai dunia. Apakah saudara tetap memelihara kasihmu yang semula untuk Tuhan (Wahyu 2:4)? Apakah saudara akan tetap setia kepada Tuhan sampai mati (Wahyu 2:10)? [End] |
|
Last Updated on Friday, 06 August 2010 06:48 |
|
BERITAKANLAH DAN SIAP SEDIALAH SENANTIASA (1 August 2010) |
|
|
|
|
Saturday, 31 July 2010 04:10 |
|
Akhir-akhir ini di siaran radio di kota Sydney ada iklan yang menghimbau para pendengar supaya pergi ke dokter untuk memeriksakan ususnya. Dalam iklan ini seorang laki-laki yang berumur lima puluh ke atas menyatakan bahwa dia baru diberitahukan oleh dokternya bahwa ada kanker pada ususnya yang tidak dapat diobati karena sudah stadium keempat. Padahal dia belum begitu mengalami gejala-gejala apapun. Lagi pula dia baru menyadari bahwa dia tidak akan sempat menyaksikan pertumbuhan dari cucu-cucunya. Oleh karena itu dia sangat mendesak supaya para pendengar cepat-cepat mengadakan pemeriksaan ususnya melalui endoskopi atau kolonoskopi. Menjelang akhir pelayanannya maka Rasul Paulus menghimbau Timotius dan semua orang percaya sepanjang abad: “Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataanNya dan demi KerajaanNya: Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya ….” (2 Timotius 4:1,2a).
Setiap hari Minggu melalui Pengakuan Iman Rasuli maka kita menyatakan bersama bahwa nanti kelak Tuhan Yesus akan datang kembali dari surga “untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati”. Justru itulah latar belakang pada ayat 1 di atas ini. Yang dimakduskan oleh “demi penyataanNya dan demi KerajaanNya” ialah demi kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya dan demi setiap lutut akan bertekuk untuk mengaku bahwa Yesuslah Raja (Filipi 2:10).
Seringkali dari mimbar ditegaskan bahwa firman Tuhan ialah “firman yang hidup dan menghidupkan”. Yang kita maskudkan ialah bahwa firman Tuhan tetap relevan kepada setiap angkatan dan tetap berbicara kepada kebutuhan pokok setiap orang. Di samping itu hanyalah firman Tuhan yang dapat memberikan kepada kita hidup yang sebenarnya. Hanyalah firmanTuhan dapat memberikan kepada kita hidup dengan Tuhan.
Kita dipercayakan berita Injil supaya kita memberitakannya kepada mereka yang jauh dari Tuhan, karena mereka masih dalam kegelapan dan diikat oleh kegelapan. Setiap kita mempunyai jaringan saudara atau teman yang belum mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan. Mana mungkin kita akan begitu membiarkan mereka menghadapi penghakiman akhir zaman tanpa sebelumnya mendengar berita keselamatan?
Apakah kita sungkan memberitakan Injil kepada mereka? Apakah kita sungkan mendesak suami atau isteri kita supaya diperiksa oleh dokter? Apakah hidup kita sebagai orang percaya tidak konsekwen dengan berita Injil sehingga tingkah laku kita menjadi batu sandungan kepada yang lain? Apakah sebagai orang tua maka kita menasehati anak kita supaya makan secara sehat sedangkan kita sering makan gorengan, terlalu banyak daging dan hampir tidak makan sayur-sayuran dan buah-buahan?
Dapatkah kita bersaksi bersama dengan Paulus bahwa kita menggunakan semua kesempatan yang diberikan kepada kita oleh Tuhan (‘baik atau tidak baik waktunya’) untuk memberitakan berita Injil? |
|
Last Updated on Saturday, 31 July 2010 04:12 |
|
NASEHAT MENGHADAPI AKHIR ZAMAN (25 July 2010) |
|
|
|
|
Saturday, 24 July 2010 12:55 |
|
Firman Tuhan sering mengingatkan kita supaya siap untuk menghadapi akhir zaman. Dari satu segi kita dihimbau siap menyongsong kedatangan Tuhan Yesus kembali pada akhir zaman. Janganlah sampai kita kedapatan tidak siap tatkala Tuhan Yesus kembali. Begitu malu kita kalau kita kedapatan tidak menggunakan talenta yang telah dipercayakan kepada kita (Matius 25:14-30)? Tetapi dari segi yang lain kita diperingatkan bahwa menjelang akhir zaman akan muncul berbagai macam kejahatan.
Melalui 2 Timotius 3:1-9 Rasul Paulus hendak memperingati Timotius dan rekan-rekannya supaya siap untuk menghadapi kejahatan tersebut yang akan muncul baik dalam dunia mau pun dalam kalangan orang percaya. Dalam hubungan inilah maka Paulus juga menekankan peranan firman Tuhan untuk melawan kejahatan tersebut (2 Timotius 3:10-17).
Secara khusus Paulus menyoroti bahwa salah satu ciri khas menjelang akhir zaman ialah bahwa orang akan “lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah” (ayat 4). Justru inilah yang kita saksikan masa kini. Yaitu, yang diutamakan oleh masyarakat di sekitar kita ialah kenikmatan, kesenangan dst untuk memuaskan hawa nafsu. Hal ini perlu kita kaitkan dengan “manusia akan mencintai dirinya sendiri” (ayat 2).
Ciri-ciri akhir zaman yang diterangkan oleh Paulus dapat kita saksikan di sekitar kita. Misalnya, salah satu contoh ialah film seri yang berjudul “Sex and the City” yang ditayangkan antara 1998 sampai dengan 2004. Di samping itu dari film seri ini dibuat dua film pada tahun 2008 dan pada tahun 2010. Peran-peran dalam film seri ini sangat mengutamakan hawa nafsunya dan sikap mencintai dirinya. Ternyata para pemerannya membanggakan pengalaman seks masing-masing dengan sebanyak mungkin laki-laki. Karena film seri ini (dan film seri serupa seperti ‘Desperate Housewives’ dll) ditayangkan pada ‘prime time viewing’ maka pengaruh terhadap para penonton semakin nyata.
Untuk melawan pengaruh dari dunia yang jahat ini Paulus menasehati Timotius dan orang percaya sepanjang masa supaya mendasarkan hidupnya pada firman Tuhan: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (ayat 16,17).
Sebagai umat pilihan Tuhan kita dipanggil hidup benar di tengah-tengah dunia yang sesat. Kita dipanggil menjauhkan diri dari kejahatan dunia ini yang semakin ganas menjelang akhir zaman.
Pada 2 Timotius 4:10 Paulus menyinggung bahwa salah satu rekannya, Demas, “telah mencintai dunia”. Kita harus siap melawan semua pengaruh dunia yang jahat ini. Marilah kita diperlengkapi dengan firman Tuhan! |
|
|
KAMI SIAP UNTUK MEMBANGUN! (18 July 2010) |
|
|
|
|
Saturday, 17 July 2010 03:17 |
|
Di bawah pimpinan Nehemiah Tuhan mempersatukan sekelompok orang Israel yang tetap setia pada Tuhan dan perjanjianNya supaya membangun kembali tembok di kota Yerusalem yang sudah lama diruntuhkan. Pembangunan tembok ini menunjukkan bagaimana keluarga Tuhan dapat bersatu untuk suatu rencana yang mulia dan bersama-sama mencapai sesuatu dengan pertolongan dan keikutsertaan Tuhan.
Nehemiah 2:18 menekankan semangat orang Israel untuk membangun tembok kota Yerusalem: “Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku dan juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka: ‘Kami siap untuk membangun!’ Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu”. Latar belakangnya ialah bahwa Tuhan telah menggerakkan Nehemiah supaya pulang ke Israel dari Susan untuk membangun tembok di Yerusalem. Dengan keyakinan bahwa pembangunan ini ialah rencana dan kehendak Tuhan dan bahwa Tuhan pastilah akan menyertainya maka Nehemiah memberanikan diri untuk meminta izin dari raja Persia.
Amsal 21:1 menyatakan bahwa “hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke mana Ia ingini.” Raja Persia tidak hanya memberi izin kepada Nehemiah supaya pulang ke tanah air untuk membangun tembok kota Yerusalem. Raja itu sekaligus memberi surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat. Di samping itu raja itu menyediakan kayu untuk proyek pembangunan itu.
Karena orang kota Yerusalem telah menyaksikan tangan Tuhan dalam proyek itu maka mereka tidak ragu-ragu untuk serentak maju untuk membangun. Dengan satu suara mereka menyatakan: “Kami siap untuk membangun!”
Berulang kali sepanjang kitab Nehemiah kita perhatikan bahwa Nehemiah menyinggung “betapa murahnya tangan Tuhan yang melindungi aku”. Memang Nehemiah dan orang Israel bersamanya menghadapi banyak tantangan dan perlawanan sepanjang proyek pembangunan. Namun mereka tetap digerakkan oleh tangan Tuhan. Mereka tetap terfokus karena keyakinan bahwa proyek tersebut ialah rencana dan kehendak Tuhan. Mereka tetap ingin supaya nama Tuhan dipermuliakan melalui membangun kembali tembok kota Yerusalem.
Hari ini ialah hari bersejarah bagi kita keluarga besar IPC Randwick. Lebih dari tiga puluh tahun yang lalu Tuhan telah mengumupulkan sekelompok kecil yang menjadi intinya suatu gereja. Dua puluh dua tahun yang lalu gereja IPC Randwick secara resmi dinyatakan sebagai jemaat Presbyterian Church of NSW. Beberapa tahun yang lalu Tuhan memimpin kita untuk membeli gereja Kingsford. Hari ini akan dilangsungkan upacara peletakan batu pertama sebagai titik permulaan pembangunan suatu gedung serbaguna untuk membangun dan mengembangkan pelayanan kita dalam rangka menunaikan panggilan kita sebagai gereja yang misioner.
Marilah kita siap untuk membangun! |
|
PANGGILAN YANG MULIA (11 July 2010) |
|
|
|
|
Friday, 09 July 2010 05:29 |
|
Sepanjang bulan Juli kita akan memusatkan perhatian kita pada hakekat gereja.Menjelang HUT IPC Ranbdwick yang ke-22. Marilah kita semua menggunakan kesempatan ini untuk merenungkan kembali siapakah kita sebagai keluarga besar IPC Randwick.
Minggu yang lalu kita diingatkan bahwa kita sebagai gereja didasarkan pada Injil Tuhan Yesus. Injil yang benar disinggung oleh Rasul Paulus pada 2 Timotius 2:8 “Ingatlah ini: Yesus Kristus yang telah bangkit dari antara orang mati, yang telah dilahirkan sebagai keturunan Daud, itulah yang kuberitakan dalam Injilku.”
Apabila kita sungguh-sungguh didasarkan pada Injil Tuhan Yesus maka kita akan mengerti bahwa setiap kita diberi oleh Tuhan suatu panggilan yang mulia. Dalam hubungan ini 2 Timotius 2:20,21 menyatakan: “Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan diri dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.”
Ada dua aspek yang perlu kita sadari. Yang pertama, kita sebagai keluarga besar IPC Randwick diberi suatu panggilan yang mulia. Yang kedua, setiap kita diberi suatu panggilan yang mulia.
Panggilan kita sebagai gereja ialah menjadi umat pilihan Tuhan yang menyatakan kasihNya kepada masyarakat di sekitar kita. Alangkah baiknya jikalau cara kita beribadah kepada Tuhan, cara kita melayani sesama kita, cara kita memperhatikan dan saling melengkapi sesama kita, cara kita memperhatikan kebutuhan orang lain sungguh memuliakan Tuhan sehingga orang lain dapat melihat bahwa kita mempunyai kasih Tuhan, damai sejahtera Tuhan dan suka cita Tuhan.
Proyek pembangunan nanti akan disaksikan oleh masyarakat di sekitar kita. Semoga mereka akan menyaksikan bahwa cara kita membangun gedung sarana dan menggunakannya menunjukkan bahwa kita mempunyai panggilan yang mulia.
Di samping itu setiap kita dipanggil menjadi alat dalam tangan Tuhan supaya berkatNya akan menjamah orang lain. Relakah kita dikhususkan untuk panggilan mulia ini? Relakah kita dipakai oleh Tuhan sesuai dengan maksud dan rencananNya? |
|
INJIL YANG MENYELAMATKAN SEBAGAI KARUNIA ALLAH ( 4th July 2010) |
|
|
|
|
Monday, 05 July 2010 06:11 |
|
Surat Timotius kedua ditulis Paulus waktu dipenjarakan. Kita tahu bahwa tidak lama lagi Paul mati di Roma karena kesaksiannya: “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memilihara iman” (2 Timotius 4:6,7). Yang diutamakan Paulus ialah memilihara iman yang didasarkan pada Injil yang sejati. Paulus juga menekankan supaya kita tetap memberitakan Injil kepada mereka yang ada dalam kegelapan. Di samping itu Paulus juga menegaskan supaya Injil yang sejati diteruskan dan diturunkan kepada angkatan-angkatan berikutnya. Paulus menekankan bahwa Injil Tuhan didasarkan pada kasih karunia dan anugerah Tuhan. 2 Timotius 1:9 menyatakan: “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud and kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepadaNya dalam Kristus sebelum permulaan zaman.” Justru di sinilah kita melihat ciri khas iman Kristen. Ciri khas iman Kristen ialah anugerah dan kasih karunia Tuhan. Keselamatan ialah pemberian Tuhan yang bukan didasarkan pada usaha manusia sama sekali. Sedangkan pada agama-agama dunia keselamatan didasarkan pada perbuatan dan jasa manusia. Asal penganut agama berusaha sedapat mungkin untuk memenuhi syarat dan ketentuan dari agama itu maka orang itu mengharap akan mendapat keselamatan. Bagi Paulus sendiri sebelum dia percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dia mengandalkan perbuatannya dan jasanya. Kesaksiannya pada Filipi 3 menunjukkan sikap Paulus sebelum dia percaya kepada Tuhan Yesus waktu dia bangga akan jasanya dan perbuatannya. Tetapi setelah Paulus percaya kepada Tuhan Yesus barulah Paulus mulai memahami apa itu anugerah dan kasih karunia Tuhan. Bahwa keselamatan sungguh didasarakan pada anugerah Tuhan ditegaskan pada 2 Timotius 1:12 : “aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang dipercayakanNya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” Yang dimaksudkan oleh Paulus ialah bahwa kita mempunyai keyakinan dan kepastian tentang keselamatan kita. Justru karena keselamatan kita berdasarkan anugerah Tuhan dan bukan pada usaha atau perbuatan kita. Kita dipanggil oleh Tuhan. Bahkan kita diselamatkan berdasarkan maksud dan rencana Tuhan sebelum dunia diciptakan (2 Timotius 2:9). Di samping itu kita tetap dipelihara oleh kuasa Tuhan. Apabila kita mengerti semua ini barulah kita dapat mulai menyelami “amazing grace” Tuhan. |
|
TUHAN BERGAUL KARIB DENGAN ORANG YANG TAKUT AKAN DIA (27 June 2010) |
|
|
|
|
Monday, 28 June 2010 06:31 |
|
Firman Tuhan menyatakan bahwa manusia boleh berhubungan secara pribadi dan intim dengan Tuhan, Pencipta alam semesta dan segala isinya. Kita tidak hanya diijinkan memanggil Tuhan “Abba” (Roma 8:15, Galatia 4:6), Rasul Petrus menerangkan bahwa kita “boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Petrus 1:4).
Bagaimanakah mungkin Tuhan yang roh adanya dapat mengadakan suatu hubungan dengan manusia yang keberadaannya ialah dalam darah dan daging? Firman Tuhan menerangkan bahwa Tuhan “mengakomodasikan” diri dengan umat manusia melalui perjanjianNya. Melalui perjanjianNya maka Tuhan mengundang dan mengajak kita memasuki suatu hubungan yang pribadi dan intim bersamaNya.
Adanya hubungan pribadi dan intim dengan Tuhan dimungkinkan melalui karya Tuhan Yesus. Tuhan Yesus datang ke dunia ini sebagai manusia sama seperti kita (Ibrani 2:14-18). Dia mati di atas kayu salib supaya ada pendamaian antara manusia dan Tuhan bagi yang percaya kepadaNya. Dengan mengutus Roh Kudus maka kita dapat memanggil Tuhan “Abba” dan sekaligus memanggil Yesus “Tuhan!” (1 Korintus 12:3).
Pada zaman Perjanjian Lama maka bangsa Israel dipanggil supaya tetap setia dan taat kepada perjanjian Tuhan dengan umat pilihanNya. Kalau Israel tetap takut akan Tuhan dan tetap menjunjung Tuhan maka mereka akan tetap menikmati hubungan yang erat dan intim dengan Tuhan.
Raja Daud dikenal sebagai seorang “yang berkenan di hati Tuhan” (1 Samuel 13:14). Kuncinya ialah bahwa Daud sungguh takut akan Tuhan dan sungguh selalu ingin menyenangkan hati Tuhan. Sikap Daud yang diungkapkan melalui Mazmur 51 menunjukkan bahwa Daud sangat sekali menghargai tetap dekat kepada Tuhan.
Pada Mazmur 89:14 Daud bersaksi: “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjianNya diberitahukanNya kepada mereka”.
Yang dipentingkan oleh Daud ialah sikap kita di depan Tuhan. Mazmur 89:9 menyatakan: “Ia membimbing orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalanNya kepada orang-orang yang rendah hati.”
Rendah hati di hadapan Tuhan ialah rahasia tetap dekat kepada Tuhan. Hanyalah tetap dekat kepada Tuhan dapat kita mengenal Tuhan sebagai Gembala kita yang membimbing dan menuntun kita dalam hidup kita.
|
|
Last Updated on Monday, 28 June 2010 06:41 |
|
SETIA PADA PERJANJIANNYA (20 June 2010) |
|
|
|
|
Friday, 18 June 2010 10:32 |
|
Dari Kitab Kejadian sampai dengan Kitab Wahyu Firman Tuhan mengungkapkan rencana Tuhan untuk menyelamatkan manusia setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Tuhan berjanji bahwa salah satu keturunan dari Adam dan Hawa akan mendatangkan keselamatan dengan mengalahkan si iblis (Kejadian 3:15). Memang janji itu degenapi di dalam diri Tuhan Yesus tatkala Dia menjelma menjadi manusia dan meraih kemenanganNya di atas kayu salib. <br> Perjanjian Lama menguraikan bagaimana Tuhan memilih bangsa Israel sebagai umat pilihanNya supaya keselamatan akan sampai ke ujung bumi. Tetapi bangsa Israel menyatakan diri tidak taat dan tidak setia kepada perjanjian Tuhan. Bahkan Israel sering memberontak terhadap Tuhan. Dengan kedatangan Tuhan Yesus maka keturunan Abraham yang sungguh-sungguh ialah mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus (Roma 2:25-29; Galatia 3:6-9).
Khususnya pada Kitab Mazmur maka kita melihat bagaimana caranya pemazmur mengandalkan kesetiaan Tuhan dan kasih setiaNya. Misalanya, pada Mazmur 89:20-38 si pemazmur menyoroti kesetiaan Tuhan dan kasih setiaNya. Istilah “khesed” biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “kasih setia”. Khesed khususnya digunakan untuk menyoroti kasih setia Tuhan kepada umat pilihanNya dalam konteks perjanjian Tuhan dengan Israel. Sehingga khesed dapat dimengerti sebagai kasih perjanjian Tuhan (God’s covenant love).
Justru melalui perjanjianNya maka Tuhan hendak menawarkan kepada umat manusia keselamatan melalui pengampunan dosa dan pendamaian dengan Tuhan.
Hari ini beberapa calon akan menerima sakramen baptisan dewasa dan beberapa pasangan suami isteri akan membawa anak mereka untuk untuk menerima baptisan anak. Melalui baptisan maka kita diingatkan akan kesetiaan Tuhan kepada perjanjianNya. Yang ditekankan ialah bahwa keselamatan ialah pemberian Tuhan yang Tuhan anugerahkan kepada orang percaya secara cuma-cuma . Keselamatan sama sekali tidak bergantung pada usaha atau pun jasa kita melainkan pada kasih karunia dan anugerah Tuhan.
Melalui khotbahnya pada hari Pentakosta maka Rasul Petrus menegaskan: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita” (Kisah 2:38b,39).
Kita perhatikan di sini bahwa Petrus menyoroti janji Tuhan. Sehingga dalam baptisan yang disoroti secara khusus ialah perjanjian Tuhan. Tuhan pasti akan menggenapi semua janjiNya. Kemudian, secara sekunder, yang disoroti ialah janji kita, orang yang percaya. Calon yang akan dibaptis berjanji akan setia dan taat kepada Tuhan dan firmanNya seumur hidup dan akan menjadi murid Tuhan Yesus yang setia. |
|
MENYAKSIKAN KEINDAHAN BERKAT TUHAN (06 June 2010) |
|
|
|
|
Sunday, 06 June 2010 12:37 |
|
Pada Mazmur 27:4 Daud mengungkapkan suatu kerinduan yang mendasari salah satu nyanyian yang sering kita nyanyi bersama: “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati baitNya”. Orang yang sungguh mengenal Tuhan dan sungguh mengerti apa itu berkat Tuhan akan mengutamakan berkat Tuhan dalam hidupnya dari pada kekayaan atau apa pun yang ditawarkan oleh dunia. Bagi Daud pada zaman Perjanjian Lama maka bait suci merupakan kuncinya untuk menyaksikan kemurahan TUHAN. Karena justru di bait sucilah Tuhan telah berjanji bahwa umatNya dapat menghadap Dia. Tetapi Tuhan Yesus sudah datang sebagai Mesias yang dijanjikan dan dinanti-nantikan. Melalui kematianNya dan kebangkitanNya maka Tuhan Yesus tidak hanya membuka jalan dimana kita dapat dilahirkan kembali dan dosa kita diampuni. Kita sekaligus diperdamaikan dengan Tuhan. Kuncinya ialah bahwa kita hidup di dalam Kristus. Hanya dengan tetap hidup di dalam Kristus dapatlah kita menyaksikan keindahan berkat Tuhan. Sebelum Tuhan Yesus meninggalkan murid-muridNya maka Tuhan berjanji bahwa Dia akan mengutus Roh Kudus. Justru adanya Roh Kudus pada diri kita berarti kita tidak perlu ‘mencari’ Tuhan karena Tuhan adalah selalu bersama dengan kita. Tetapi adanya Tuhan pada diri kita melalui Roh Kudus tidak berarti bahwa kita akan selalu menikmati hidup yang senang tanpa masalah atau hambatan apapun. Hidup di dalam Tuhan Yesus tidak menjamin bahwa kita tidak akan mengalami kesakitan. Dengan kata lain adanya berkat Tuhan tidak secara otomatis berarti semuanya akan enteng. Karena adanya berkat Tuhan harus selalu dikaitkan dengan rencana Tuhan dan kehendakNya. Misalnya, pada Filipi 4:12,13 Rasul Paulus berskasi bahwa ada kalanya dia berada dalam keadaan kelimpahan sedangkan ada kalanya dia berada dalam keadaan kekurangan. Tetapi yang ditekankan oleh Paulus ialah baik dalam kelimpahan maupun dalam kekurangan dia tetap dapat bersukacita dalam Tuhan karena tetap dikuatkan oleh Tuhan dan diberkati oleh Tuhan. Diberkati oleh Tuhan berarti menerima apa yang dikehendaki oleh Tuhan Kalau kita sungguh memahami itu maka kita dapat mengerti apa yang diajarkan oleh Yakobus: “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagian, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” (Yakobus 1:2). Yang dimaksudkan dengan pencobaan ialah keadaan atau pengalaman yang mungkin kita mau hindari tetapi justru Tuhan ingin supaya kita alami supaya iman kita semakin kuat dan mantap. Marilah tetap hidup di dalam Kristus dan dengan demikian menikmati kemurahan Tuhan dan berkatNya! |
|