|
Pada Hari Ayah ini marilah kita mempelajari dari Rasul Paulus mengenai seorang ayah yang sungguh mencerminkan kasih Tuhan.
Paulus menyatakan: “Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. Kamu tahu betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaanNya” (1 Tesalonika 2:10-12).
Sebagai seorang ayah, siapakah di antara kita dapat bersaksi bahwa kita memang hidup saleh, adil dan tak bercacat terutama di depan keluarga kita yang tahu semua kelemahan kita? Apakah anak kita dapat melihat kesalehan kita melalui tingkah laku kita, prioritas hidup kita dan cara kita bicara dengan anak kita? Apakah anak kita dapat melihat bahwa kita memang hidup konsekwen dan bahwa kita memang selalu menegakkan keadilan? Memang tidak ada di antara kita yang tak bercacat, tetapi apakah anak kita melihat bahwa kita mau mengakui kesalahan dan kelemahan kita dan, dengan pertolongan Roh Kudus, berusaha untuk memperbaikinya?
Pastilah anak kita akan memperhatikan bagaimana cara kita, sebagai ayah, menghadapi tiga “ta” dalam hidup sehari-hari (wanita, harta dan takhta).
Marilah kita menyoroti secara khusus “takhta”. Bagaimanakah anak kita melihat cara kita menunjukkan kepemimpinan, wibawa dan tanggung jawab kita sebagai seorang ayah?
Apakah kita memang menasihati dan menguatkan hati anak kita satu per satu tanpa memandang di antara mereka? Ataukah, apakah kita sebagai ayah menyakiti hati anak kita sehingga mereka menjadi tawar hati (Kolose 3:21)?
Lagi pula, sebagai seorang ayah, apakah kita memang menghimbau anak kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan? Bahkan apakah kita meminta dengan sangat supaya anak kita hidup sesuai dengan kehendak Tuhan? Di negara-negara Asia tidak jarang orang tua cenderung mengharapakn bahkan ‘memaksa’ anak mereka untuk memenuhi kehendak orang tua. Tetapi kita harus menolak kecenderungan ini. Harga diri kita tidak bergantung pada keberhasilan anak kita atau pun prestasi yang mereka capai entah di bidang dunia akademik atau di dunia bisnis.
Setiap anak kita ialah pemberian yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Yang perlu kita tekankan dan utamakan ialah supaya anak-anak kita menemukan sendiri kehendak Tuhan dan panggilan Tuhan atas hidup mereka. Mungkin sekali anak kita akan dipanggil untuk suatu pelayanan, bahkan pelayanan full-time. Relakah kita menguatkan hati anak kita di dalam pergumulan mereka menemukan kehendak Tuhan? Relakah kita dengan sabar menasihati dan menguatkan hati anak kita di dalam usaha mereka menemukan teman hidup? [END] |